SEARCH FILE ARSIP BLOG

21 April 2016

MODEL PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013



BEBERAPA MODEL PEMBELAJARAN YANG DAPAT DIGUNAKAN DALAM  PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN (PAK)
DALAM KURIKULUM  NASIONAL / K.2013 YANG SUDAH DIREVISI

 
1.   Model Inkuiri.
Model ini menekankan pada pengembangan kognitif atau cara berpikir peserta didik. Penekanan kepada peserta didik yang mencari, menggali dan menjelajahi sendiri, akhirnya menemukan sendiri jawabnya. Di sini peserta didik dilatih untuk menggunakan dan mengembangkan kemampuan berpikir, dimana guru lebih berperan sebagai fasilitator yang kreatif. Misalnya dengan menebak pemikiran pendidik, memberikan dua teka-teki dan memberikan kata kunci (clue) sampai peserta didik menemukan jawabanya, juga bisa melalui teknik “kata bergambar” yang bisa dianalisis. Hal ini penting karena banyak aspek dan konsep-konsep kepercayaan dan ajaran Kristen yang perlu dipikirkan, dipahami, dan dihayati melalui pengembangan ranah berpikir. Model pembelajaran ini dapat diterapkan terutama ketika membahas berbagai persoalan yang dihadapi pada masa kini menyangkut keadilan, kesetaraan, demokrasi dan HAM.
2.   Model perjumpaan dengan Tuhan Allah.
Hal ini sangat penting bagi PAK, terutama untuk pengembangan iman dan spiritualitas peserta didik. Pada model ini, guru perlu berperan sebagai seorang seniman yang mampu mendesain model pembelajaran dengan komprehensif. Model ini perlu beberapa tahapan, yakni: (a) mendesain proses belajar-mengajar yang menekankan aspek afektif, (b) menyiapkan bahan/materi yang dibutuhkan, (c) membuat pedoman pengalaman, (d) memimpin refleksi atas pengalaman, sehingga peserta didik bisa bertemu dengan Tuhan Allah. Untuk itu guru perlu mendesain suasana atau lingkungan yang diharapkan (gelap, terang, gembira); membuat pedoman pengalaman dengan alur dan media yang sesuai misalnya gambar, alam, lagu, obyek tertentu (lilin, salib, roti, buah anggur); memberi waktu yang memadai kepada peserta didik untuk berefleksi, kontemplasi, meditasi atau perenungan. Acara ini juga bisa dikembangkan misalnya dalam acara refleksi, retreat, rekoleksi, meditasi, saat teduh.
3.   Model Pengembangan Lingkungan.
Di sini guru perlu mengajarkan bagaimana peserta didik dapat mendesain lingkungan agar tujuan yang baik dapat diterapkan dan dicapai. Misalnya supaya mampu menerapkan kasih, belajar dengan baik, membuat lingkungan kondusif yang sehat, bersih dan kristiani. Model ini dapat diterapkan dan dilakukan secara sendiri atau mandiri, namun tidak jarang sering harus melibatkan dan menyadarkan orang lain di sekitarnya dalam pengelolaannya.
4.   Model Aksi-Refleksi Dan Aksi Baru.
Ini adalah usaha untuk menerapkan iman dalam situasi konkret. Iman dapat dihayati apabila seseorang betul-betul telah menerapkan dan melaku­kan apa yang diimani. Untuk model ini perlu ditentukan masalahnya lebih dahulu, misalnya  masalah pribadi/personal, masalah bersama, atau masalah lingkungan hidup. Selanjutnya secara berturut-turut perlu konsisten diikuti tahapan sbb: (1) peng­ungkapan data atau fakta yang diketahui, (2) analisis data, bisa dilakukan dengan perspektif personal, sosial, budaya, agama, ekonomi, ideologi, dll., (3) mencari dan menemukan pengalaman kristiani yang pernah dialami yang berhubungan dengan masalah yang dibahas, misalnya pengalaman umat Kristen selama ini, kisah-kisah dalam Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, etika Kisten, sejarah gereja, dll. (4) merumuskan masalah, atau rumusan keprihatinan, (5) rencana aksi baru, yaitu rencana kegiatan nyata untuk memecah­kan masalah berdasarkan rumusan masalah atau keprihatinan iman. Di sini kadang-kadang diperlukan kepemimpinan dan manajemen/pengelolaan. (6) pelaksanaan aksi baru. Model aksi-refleksi-aksi baru tersebut sesungguhnya merupakan model sebagaimana suatu siklus atau spiral, yang dapat diulangi dalam tenggang waktu tertentu.
5.   Ilustratif Dan Naratif.
Mengajar dengan ilustrasi naratif sangat efektif . Ilustrasi dapat diambil dari cerita dongeng.  Dongeng bisa dipakai dalam proses pembelajaran, khotbah, mengajar berbagai usia, atau sebagai ilustrasi. Beberapa tahap untuk bercerita atau mendo­ngeng dengan menarik dapat memakai tahap-tahap: (1) tentukan topik cerita/dongeng, (2) mencari maksud utama atau nilai kristiani yang akan dikembangkan, misalnya kasih, kesa­baran, pengampunan, (3) mendesain cerita (pembukaan, isi, penutup), misalnya dengan membuat dua hal atau tokoh yang saling bertentangan (4) merencanakan pemecahan masalah atau klimaks cerita dengan dramatis (5) menyimpulkan, (6) membuat evaluasi dengan memberikan pertanyaan seder­hana pada pendengar/peserta didik. (7) berterimakasih pada pendengar untuk perhatiannya. Beberapa tips mendongeng perlu diadopsi, misalnya: (a) perke­nalkan cerita melalui nyanyian atau gambar, (b) gunakan suara sesuai tokoh yang diungkapkan misalnya suara tokoh laki-laki, perempuan, suara orang yang sedang sedih, marah, gembira, (3) bukalah Alkitab bila memakai referensi Alkitab, (4) pakailah diri anda sebagai media/alat peraga, (5) jangan layani interupsi sampai dongeng selesai agar konsentrasi pendengar tidak terpecah, sesudah selesai mendongeng baru layani pertanyaan.
6.   Bermain peran (role-play).
Role-play bertujuan untuk memecahkan masalah aktual yang sedang dihadapi kelompok/komunitas dengan cara mengidentifikasikan diri, memahami, berempati, mengambil  sikap.Masalah bisa diambil dari hal-hal yang dihadapi kelompok/ko­munitas, misalnya kenakalan remaja, mencontek, hamil di luar nikah, sulit memahami peristiwa penyaliban Tuhan Yesus, perkelahian, bullying di sekolah, dll. Untuk itu tahapan-tahapan tertentu perlu dilakukan: (a) pemilihan tokoh-tokoh yang akan melakukan peme­ranan; (b) mendeskripsikan sikap, perasaan, tindakan yang harus diperankan; (c) pema­nasan bermain peran (d) bermain peran yang sesungguhnya; (e) analisis pemeranan, mengenali masalah, sikap, perasaan, emosi, para tokoh; (f) bermain peran perlu diulang jika para tokoh tidak bermain peran dengan baik dan sulit dilakukan analisis, sehingga identifikasi perasaan, emosi, sikap, nilai-nilai yang dipegang tokoh tidak dapat disimpulkan dengan baik; (g) membandingkan masalah sesungguhnya yang sedang dihadapi dengan permainan peran yang dilakukan (persamaan dan perbedaan); (h) memecahkan dan mendiskusikan masalah aktual yang sedang dihadapi komunitas.
7.   Model Pelatihan. Tujuannya melatih peserta didik agar memiliki kemampuan, keterampilan, wawasan baru dengan dasar iman. Misalnya, wawasan tentang kesadaran jender, sadar lingkungan, peduli pada sesama, memiliki keterampilan untuk membaca dan menerapkan Alkitab dalam kehidupan, menolong orang lain, menjadi aktivis Kristen, mengenali dan membuat simbol-simbol kristiani secara kreatif. Untuk itu guru perlu melakukan tahap-tahap sebagai berikut: (a) tentukan pelatihan yang akan dilaksanakan; (b) demonstrasikan di depan peserta didik cara, atau pelaksanaan, atau membuat obyek tertentu; (c) buatlah langkah-langkah atau pedoman supaya peserta didik dapat melaksanakan kemampuan atau keterampilan yang baru; (d) dampingi peserta didik untuk melaksanakan hal yang ditetapkan sebagaimana yang sudah guru lakukan atau demonstrasikan sebelumnya; (e) membuat tugas pekerjaan rumah atau tugas mandiri bagi peserta didik di luar kelas.
SELAMAT MEMPRAKTEKKAN !

19 April 2016

Pendidikan Agama Di Sekolah Belum Menyentuh Semua Peserta Didik di Sekolah

Pendidikan Agama Kristen Bagi Anak-anak SD, SMP, SMA dan SMK
di Laksanakan Di Gereja Kristen Jawa Bekasi


 Kenyataan Bahwa UU No. 20  Tahun 2003 Tentang Sisdiknas , Peraturan pemerintah No.55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan  , PMA No. 16 Tahun 2010 , Permendiknas No.15 Tahun 2010 belum sepenuhnya di laksanakan dengan baik oleh penyelenggara Pendidikan dan juga kebijakan Kepala Sekolah yang kurang mendukung tercapai dan terlaksananya undang - undang dan Peraturan pemerintah maupun Peraturan  Menteri.
Inilah yang menjadi keprihatinan bagi para pemerhati Pendidikan, khususnya Guru Agama yang minoritas di negara Pancasila seperti negara kita.
Bagaimanapun Pendidikan Agama harus menjadi hal utama di sekolah demi masa depan anak-anak bangsa. 


Contoh SARANA & PRASANA Yang Menjadi Penilaian Asesor Akreditasi Sekolah



BEBERAPA CONTOH  KONDISI FISIK GEDUNG DAN RUANGAN SEKOLAH
( STANDAR SARANA DAN PRASARANA )
YANG MENJADI PENILAIAN DAN PENGAMATAN ASESOR AKREDITASI

Saran saya : 
Sebelum Pelaksanaan Visitasi / Akreditasi Sekolah Bapak/ Ibu sebaiknya benahi,  perbaiki , rapikan semua sarana dan Prasarana Sekolah sebagai contoh hal - hal seperti  gambar berikut ini. Semoga membantu informasi dan pengalaman yang sudah saya alami.

 





Berbagi Pengalaman Saat Akreditasi Sekolah



Berbagi Pengalaman
Hal Yang Kurang di Persiapkan Ketika Sekolah di Akreditasi

1.       Bangunan sekolah/ ruangan  sekolah  yang  rusak belum sempat diperbaiki.
2.       Job Diskripsion  seluruh tenaga kependidikan dibuat, tetapi tidak di publikasikan / di pajang   di tempat  yang bias dilihat orang.
3.       Bukti fisik hubungan kerjasama dengan pihak luar sekolah/ masyarakat kurang di sertai bukti fisik kehadirannya, isi kerjasama, dan dokumentasinya.
4.       Dalam standar Penilaian,  hasil  kertas ulangan/ buku tugas  peserta didik  setelah diperiksa dan diberi nilai oleh Guru, tidak di sertai  komentar yang sifatnya membangun oleh Guru dan atau sebaliknya orang tua murid, dan di foto copy kemudian di filekan oleh sekolah .
Contoh :      Dapat nilai 95, pertahankan nilaimu , tingkatkan belajarmu!
                     Dapat nilai 65, lebih rajin belajamu ya nak agar meningkat hasil ulanganmu!

Silabus K 2013 SMA /SMK Agama Kristen revisi 2016



I.     Kompetensi Dasar, Materi Pembelajaran, Kegiatan Pembelajaran, dan Alokasi Waktu

Kelas                              :  X (Sepuluh)

Alokasi waktu                : 3 jam x 18 minggu à semester 1
                                        3 jam x 16 minggu à semester 2
Materi:
No
Materi
Jam Pelajaran
1.
Bertumbuh menjadi dewasa
18 JP
2.
Makna kesetiaan,  keadilan, dan kasih
18 JP
3.
Peran Roh Kudus bagi orang percaya
18 JP
4.
Karunia Allah dalam kepelbagaian; Persahabatan yang sejati; Pacaran yang sehat menurut iman Kristiani; Diriku bersama dengan orang lain

24 JP
5.
Keberadaan Allah sebagai pembaharu kehidupan; Karya Allah dalam membaharui kehidupan; Peran remaja Kristen dalam pembaharuan hidup manusia dan alam.

24 JP


102 JP

Kompetensi Dasar
Materi Pembelajaran
Kegiatan Pembelajaran
Alokasi Waktu
1.1  Mensyukuri karunia Allah bagi   dirinya yang terus bertumbuh sebagai pribadi dewasa.

2.1. Mengembangkan  perilaku sebagai pribadi yang terus bertumbuh menjadi dewasa.

3.1. Menganalisis ciri-ciri pribadi yang terus  bertumbuh menjadi dewasa.

4.1  Membuat karya yang berkaitan dengan ciri-ciri pribadi yang terus  bertumbuh menjadi dewasa.

Menjadi manusia dewasa dalam iman
·       Bertumbuh menjadi dewasa

·         Mengamati perbedaan yang dialami ketika sudah duduk di kelas X, dibandingkan dengan di kelas IX.
·      Mendisukusikan Perbedaan antara orang yang dewasa dengan yang belum dewasa.
·       Merumuskan, apa saja ciri-ciri orang yang sudah dewasa dalam iman dan aspek perkembangan lainnya.
·       Mewawancarai dua orang dewasa yang dijadikan panutan, tentang pengalaman yang menolong mereka untuk tumbuh menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab.
·       Membayangkan, apa jadinya bila orang bertambah usia, tetapi tidak menunjukkan ciri-ciri sebagai orang dewasa.
·       Melakukan kajian tentang perilaku seorang yang berkepribadian matang dalam diri Tuhan Yesus, tokoh-tokoh Alkitab lainnya, dan melalui Mazmur 90,  menyimpulkan, apa saja hal-hal yang harus dilakukan untuk menjadi dewasa dan bertanggung jawab.
·   spiritual. 
·   Memberikan contoh-contoh pribadi yang dewasa dari  kisah-kisah yang diambil dari media massa/internet.
·   Melaporkan hasil wawancaranya terhadap dua orang yang jadi panutan.
·   Membuat komitmen untuk mengembangkan kepribadian yang matang berdasarkan tanda-tanda manusia yang bertumbuh sebagai pribadi dewasa. Teks Alkitab acuan:
-          1 Korintus 13:11
-          1 Timotius 4:12
-          Yakobus 5: 12
·   Membagikan apa yang dipelajari tentang ciri-ciri orang dewasa, kepada orang-orang lain di sekitarnya (rumah, lingkungan).
18 JP

1.2 Menghayati nilai-nilai Kristiani:  Kesetiaan, kasih dan keadilan dalam kehidupan sosial.

2.2.      Meneladani Yesus dalam mewujudkan  nilai-nilai Kristiani:  Kesetiaan, kasih dan keadilan  dalam kehidupan soial.

3.2. Memahami  makna nilai-nilai Kristiani:  Kesetiaan, kasih dan keadilan  dalam kehidupan.
4.2  Menerapkan nilai-nilai Kristiani:  Kesetiaan, kasih dan keadilan  melalui berbagai aktivitas.

-   Makna kesetiaan,  keadilan, dan kasih




·         Mengamati (atau melakukan studi kasus) dari pengalaman, dan dari berbagai sumber belajar lainnya, seberapa jauh ada wujud kesetiaan, kasih, dan keadilan di masyarakat.
·         Melakukan kunjungan ke kantor pemerintah/Lembaga Hukum, untuk mendapatkan informasi, bagaimana kantor-kantor tersebut mempraktekkan kesetiaan, kasih dan keadilan.  Kegiatan ini bisa dipakai sebagai konfirmasi terhadap apa yang sudah ditemukan dari tugas mengamati sebelumnya.
·         Menggali dari Alkitab, tentang makna kesetiaan, kasih dan keadilan seperti yang diajarkan para nabi dan Tuhan Yesus.
·         Mendalami kembali nilai-nilai Kristiani, seperti buah-buah roh (kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri) yang sudah pernah diekplorasi pada kelas VII. (Teks.Alkitab yang dipakai: Ul. 16:19-20 ; Maz. 106 : 3 ; Ams. 21:15, 29:4 ; Yes 56 :1 ; Yer 22:3; Mat. 23:23 ; Roma 3:25-26.; Yoh 15:11-14 ; Filipi 2:5-8. Gal. 5: 22.)
·         Melakukan kajian dengan menggunakan berbagai sumber, apa dilandasi oleh kasih dan kerelaan untuk berkorban.
·         Menjelaskan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam 3 bulan mendatang: bagaimana mewujudkan nilai kesetiaan, kasih, dan keadilan seperti yang telah diteladaninya dari para nabi dan Tuhan Yesus
·         Membuat kesimpulan, mengapa nilai-nilai kesetiaan, kasih dan keadilan perlu diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat, dalam berbagai unjuk kerja (puisi, tulisan di majalah, dsb.).

18 JP
1.3     Mengakui peran Roh Kudusdalam membaharui kehidupan orang beriman.

2.3.       Bersedia hidup baru sebagai wujud percaya pada  peran Roh Kudus sebagai pembaharu.

3.3.      Memahami peran Roh Kudus dalam membaharui kehidupan orang beriman
4.3.      Menyajikan presentasi berkaitan dengan peran Roh Kudus sebagai pembaharu mengacu pada Alkitab.

-       Peran Roh Kudus bagi orang percaya
















·         Mengamati seberapa jauh kotbah di gerejanya membahas tentang peran Roh Kudus.
·      Mendiskusikan peran Roh Kudus dalam kehidupan keluarga, gereja dan masyarakat.
·      Mengkaji peran Roh Kudus berdasarkan ayat-ayat Alkitab sebagai berikut:
-        Roma 15:1-5
-        Markus 13: 11
-        Yohanes 14:16-17, 26; 16:13
-        Roma 5:5;  8:14
-        1 Korintus 12: 7-11
-        Efesus 1: 14
-        Galatia 5: 18
·         Membuat daftar beberapa bagian Alkitab yang menulis tentang pembaruan hidup oleh Roh Kudus. Pada tiap bagian Alkitab yang dipilih, peserta didik membuat komentar dan dikaitkan dengan sikap hidup sehari-hari. Misalnya Roma 8:1-17: Hidup oleh Roh.
·       Menuliskan doa yang menunjukkan keyakinannya pada Roh Kudus yang mengarahkan hidupnya  ke arah yang benar.
·      Mennyimpulkan pentingnya menyerahkan diri dalam pimpinan Roh Kudus dan membiarkan Roh Kudus membimbing ke arah hidup yang benar (menyelesaikan konflik, tidak mementingkan diri sendiri, hidup berkenan di hadapan Allah dan sesama).
18 JP






1.4 Mensyukuri karunia Allah melalui kebersamaan dengan orang lain tanpa kehilangan identitas.

2.4  Bersedia hidup bersama dengan orang lain tanpa kehilangan identitas.

3.4  Menganalisis makna kebersamaan dengan orang lain tanpa kehilangan identitas

4.4  Membuat proyek mengenai kebersamaan dengan orang lain tanpa kehilangan identitas


-   Karunia Allah dalam kepelbagaian
-   Persahabatan yang sejati.
-   Pacaran yang sehat menurut iman Kristiani.
-   Diriku bersama dengan orang lain

















































·         Mengamati kemajemukan yang ditemukan di lingkungan dan di masyarakat: dari segi suku/adat istiadat, makanan, bahasa/ dialek, agama, dsb.  Melaporkan hasil pengamatannya melalui berbagai penampilan seperti: pakaian adat, makanan khas, nyanyian daerah, logat bahasa daerah, gambar-gambar rumah ibadah dan ritual agama dari masing-masing agama.
·       Membagikan suka-duka dalam pengalamannya menjalin hubungan pertemanan dan persahabatan.
·       Melakukan curah pendapat tentang pacaran yang sehat dalam kehidupan mereka sebagai remaja. Dapat dimulai dengan berbagi cerita tentang alasan menyukai seseorang/alasan jatuh cinta. 
·       Mendiskusikan tentang pacaran dalam Iman Kristen (teks pembanding: I Korintus 3:16-17 ; 6: 18-20 ; Roma 1:24-29). Cerita Alkitab pembanding adalah Kisah Simson dan Delila.
·       Mendiskusikan bagaimana caranya  membangun hubungan pacaran yang baik dan bertanggungjawab.
·      Mengkaji prinsip-prinsip  persahabatan yang Yesus teladankan, yang membuat identitas diri-Nya makin  nampak, antara lain:
-       melayani dengan merendahkan diri (Yohanes  13:15).
-       saling mengasihi (Yohanes 15:12-17).
-       mempercayai seseorang dengan  memberikan kesempatan (Yohanes 18:12-27).
·      Mengaji tentang pentingnya memelihara identitas diri sebagai pribadi dan remaja Kristen di tengah keberagaman berdasar pada kehidupan Nuh ( Kejadian 6:9, 11,12) dan Salomo (I Raja-raja 11:38) ; (Bandingkan beberapa bagian Firman Tuhan  Roma 1:17, Yehemia 18:19-20, Galatia 2 :14, II Petrus 2:4-10, I Yohanes 1 : 6,  I Yohanes 5:20, III Yohanes 1:3).
·      Membuat sebuah poster dan mensosialisasikan di kalgan remaja mengenai  pacaran yang sehat sesuai iman Kristen.

·      Menulis  cerita dengan tema “Remaja Kristen di Tengah Keberagaman” sebagai bentuk ungkapan pemahaman akan iman Kristen yang dewasa.

24 JP

1.5.      Mensyukurikeberadaan Allah sebagai pembaharu kehidupan manusia dan alam.

2.5  Merespon keberadaan Allah sebagai pembaharu dalam relasi dengan sesama manusia dan alam.

3.5  Memahami keberadaan Allah sebagai pembaharu kehidupan manusia dan alam.

4.5. Membuat karya yang berkaitan dengan peran Allah sebagai pembaharu kehidupan manusia dan alam.
-    Keberadaan Allah sebagai pembaharu kehidupan.
-    Karya Allah dalam membaharui kehidupan.
-    Peran remaja Kristen dalam pembaharuan hidup manusia dan alam.










·         Mengamati lingkungan sekitar sambil merenungkan, apakah semua yang terjadi di alam adalah karena kebetulan, atau karena Allah yang Mahakuasa mengambil peranan penting?  

·      Melakukan refleksi bagaimana Allah membaharui kehidupan alam dan manusia.

·       Mengaji cerita inspiratif dan menarik hubungannya dengan pengalaman pribadi mereka. Cerita inspiratif bisa diambil dari Alkitab ataupun cerita lainnya tentang Tokoh Humanis atau para pekabar Injil. Inti cerita tentang Pembaharuan Hidup
·      Membahas bagian Alkitab mengenai Allah yang membaharui hidup manusia dan alam. (Jika memungkinkan, peserta didik dapat menonton bersama film tentang Kisah Nuh).  Diambil dari teks Yeremia 1: 4-10 tentang Yeremia yang diangkat oleh Allah untuk mencabut dan merubuhkan, membinasakan dan meruntuhkan, membangun dan menanam, atau dengan kata lain membuang yang rusak dan menghasilkan pembaharuan.
·         Dalam kelompok, membahas bagian Alkitab yang menulis tentang Allah yang membaharui hidup manusia dan alam
·      Membuat tulisan pendek atau karya kreatif lainnya tentang peran remaja Kristen dalam turut serta mendukung pembaharuan hidup manusia dan alam. Tulisan atau karya tersebut dibahas dalam 1 kali pertemuan (dibacakan atau dipresentasikan) (Contoh karya kreatif: tulisan, lukisan, puisi, doa, karya seni lainnya).
24 JP


Kelas                              :  XI (Sebelas)

Alokasi waktu                : 3 jam x 18 minggu à semester 1
                                        3 jam x 16 minggu à semester 2
Materi:
No
Materi
Jam Pelajaran
1.
Peran Allah dalam kehidupan keluarga; Hakikat keluarga;
Makna keluarga yang bertumbuh
27 JP
2.
Pernikahan Kristen
27 JP
3.
Keluarga dan Sekolah sebagai lembaga pendidikan utama
24 JP
4.
Kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi adalah anugerah Tuhan
24 JP


102 JP


Kompetensi Dasar
Materi Pembelajaran
Kegiatan Pembelajaran
Alokasi Waktu
1.1 Mengakui peran Allah dalam kehidupan keluarga.
2.1Mengembangkan perilaku tanggung jawab sebagai wujud dari pengakuan terhadap peran Allah dalam kehidupan keluarga.

3.1 Memahami  peran Allah dalam kehidupan keluarga.

4.1. Bersaksi tentang peran Allah  dalam keluarganya.
Keluarga dan Modernisasi
-      Peran Allah dalam kehidupan keluarga
-      Hakikat keluarga
-      Makna keluarga yang bertumbuh.

·     Melakukan pemetaan pikiran (mind mapping) tentang kehidupan manusia berdasarkan sumber belajar yang dimilikinya (buku, artikel majalah/koran, internet, dsb.).
·       Menanyakan apa yang diinginkan remaja sebaya dari orangtua dan keluarga dan apa yang diinginkan orangtua dan keluarga dari remaja.
·       Merancang dan melakukan kajian/penelitian tentang hal apa yang diinginkan remaja sebaya dari orangtua dan keluarga.
·       Menggali dari alkitab tentang apa yang Allah inginkan dari keluarga. (Guru membahas peranan keluarga besar dalam proses sosialisasi dan pendidikannya
·       Menganalisis hasil penelitian dan mempresentasikan tentang apa yang diinginkan remaja sebaya dari orangtua dan keluarga Hasil penelitian dibandingkan dengan apa yang Allah inginkan dari keluarga.
·        Melakukan simulasi tentang peranan orangtua dalam pendidikannya.
·        Menjelaskan pengertian keluarga dan apa peran Allah untuk keluarga.
27 JP


1.2  Menghayati nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan keluarga dan pernikahan.
2.2  Mewujudkan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan keluarga dan pernikahan.
3.2. Menganalisis pentingnya nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan keluarga dan pernikahan
4.2. Membuat karya yang berkaitan dengan nilai-nilai kristiani  dalam kehidupan keluarga dan pernikahan



Pernikahan Kristen
·        Mengamati ciri-ciri kehidupan keluarga Kristen.
·        Megamati kehidupan keluarga Kristen yang menerapkan nilai-nilai Kristiani
·        Mengaitkan  hubungan antara nilai-nilai Kristiani  dengan pernikahan.
·        Mengidentifikasi nilai-nilai kristiani dalam kaitannya dengan pernikahan , khususnya persiapan pernikahan.
·        Melakukan percakapan/wawancara dengan orang yang sudah menikah dan yang akan menikah mengenai makna pernikahan serta nilai-nilai yang harus dibangun dalam pernikahan kristen.
·        Mengkritisi konteks keluarga masa kini terutama hubuagan antara anak dengan orang tua, suami dengan isteri, hubungan antara sesama saudara.
·         Mengkaitkan hubungan antara teks Alkitab dengan tanggung jawab suami-isteri.
·        Membuat klasifikasi  bentuk tantangan yang dialami oleh suami-isteri dalam membangun kehidupan bersama.
·         Membuat tulisan/ refleksi pendek mengenai makna keluarga bagi dirinya.
·        Membuat kliping mengenai kehidupan perkawinan dan berbagai masalah yang timbul kemudian memberikan penilaian dalam bentuk analisis.
27 JP

1.3.      Mengakui peran keluarga dan sekolah sebagai lembaga pendidikan utama dalam kehidupan masa kini.
2.3   Bersikap kritis dalam menyikapi peran keluarga dan sekolah sebagai lembaga pendidikan dalam kehidupan masa kini
3.3 Memahami peran keluarga dan sekolah sebagai lembaga pendidikan dalam kehidupan modern
4.3.      Membuat proyek yang berkaitan dengan  peran keluarga dan sekolah sebagai lembaga pendidikan utama.
-          Keluarga dan Sekolah sebagai lembaga pendidikan utama

·         Mengamati  peran keluarga dan sekolah, dan pentingnya mengomunikasikan antara keluarga  dan sekolah sebagai lembaga pendidikan utama.
·         Mengaitkan peran keluarga dan sekolah bagi seorang remaja.
·      Membuat observasi sederhana mengenai  faktor penyebab putus sekolah dan apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.
·       Menggali pesan Alkitab tentang pendidikan anak (bisa diambil dari Ulangan 6 dan Amsal). 
·       Merumuskan hakekat dan peran keluarga dan sekolah  sebagai lembaga pendidikan utama.
·       Mengajak orangtua membuat janji komitmen partisipasi orangtua dalam proses pendidikannya.
·       Menyampaikan hasil refleksi tentang peran keluarga dan sekolah sebagai lembaga pendidikan dalam kehidupan modern.

24 JP


1.4  Mengakui bahwa perkembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan seni dan teknologi adalah anugerah Allah.

2.4       Bersikap kritis dalam menghadapi perkembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, seni dan teknologi dengan mengacu pada Alkitab.

3.4  Menilai  perkembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, seni  dan teknologi dengan mengacu pada Alkitab.

4.4.      Membuat karya yang mengkritisi perkembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, seni  dan teknologi dengan mengacu pada Alkitab.

-   Kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi adalah anugerah Tuhan

·         Mengamati  dan melakukan studi kasus dari pengalaman dan berbagai sumber belajar lainnya tentang kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai anugerah  Tuhan.
·         Mengumpulkan dari berbagai sumber  apa saja wujud kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi yang merugikan kehidupan manusia.
·         Mendiskusikan kearifan lokal yang dapat dianggap sebagai kebudayaan yang mampu menjadi filter kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi  yang telah dirusak oleh dosa.. Misalnya, filosofi Jawa “alon-alon asal kelakon” yang bermaksud menekankan kehati-hatian dapat dipakai mengatasi budaya serba instan. Gotong royong yang dapat dipakai mengatasi individualisme, dsb.
·         Membandingkan dengan ayat Alkitab
-       Matius 5:13-16
-       1 Korintus 10: 23
-       1 Yohanes 2:15-16
-       Kejadian 11:1-9
·       Menyikapi perkembangan  kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengacu pada Alkitab.
·      Membuat poster, puisi, artikel di majalah dinding, lirik lagu, dsb. yang isinya membuat masyarakat menyadari bahaya larut dalam kebudayaan populer padahal belum tentu hal itu sesuai dengan nilai-nilai Kristiani.
24 JP


Kelas                              :  XII (Dua Belas)

Alokasi waktu                : 3 jam x 18 minggu à semester 1
                                        3 jam x 14 minggu à semester 2
Materi:
No
Materi
Jam Pelajaran
1.
Hak Asasi Manusia sebagai anugerah Tuhan

27 JP
2.
Multikultur adalah pemberian Allah
27 JP
3.
Demokrasi dan HAM
21 JP
4.
Menjadi pembawa damai sejahtera

21 JP


96 JP


Kompetensi Dasar
Materi Pembelajaran
Pembelajaran
Alokasi Waktu
1.1     Menerima Demokrasi dan HAM sebagai anugerah Allah.

2.1     Mengembangkan  perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Demokrasi dan HAM.


3.1.Memahami arti Demokrasi dan HAM  serta mengenali berbagai bentuk pelanggaran  Demokrasi dan HAM yang merusak kehidupan dan kesejahteraan manusia.

 4.1  Membuat karya yang berkaitan dengan Menerapkan sikap dan perilaku yang menghargai Demokrasi dan HAM.
Pembawa damai sejahtera
-          Hak Asasi Manusia sebagai anugerah Tuhan

·         Mengamati sedikitnya 5 peristiwa di masyarakat yang menunjukkan kualitas Demokrasi dan HAM di Indonesia. Boleh memakai artikel yang disediakan guru, misalnya, tentang tabrak lari, atau artikel lain yang menggambar-kan kesewenang-wenangan pihak yang berkuasa, dan dari hasil pengamatan ini membuat penilaian, seberapa jauh masyarakat Indonesia sudah menerapkan Demokrasi dan HAM.
·      Menceritakan pengalaman berdemokrasi: ikut serta dalam pemilihan ketua Osis, musyawarah dan mufakat di tingkat keluarga,  RT/RW, sekolah, gereja,  mengikuti Pilkada dan Pemilu.
·         Membuat analisis: Mengapa pembahasan tentang  Demokrasi dan HAM relevan untuk orang Kristen. ( dibantu dengan ayat Alkitab yang dianggap tepat untuk mendukung ide ini.)
·      Membaca tentang pemilihan Matias dan Stefanus dalam Kisah Para Rasul (bahwa demi kesejahteraan orang banyak, ada orang-orang yang dipilih dengan persetujuan orang banyak juga, dan Matias serta Stefanus bekerja dengan baik karena sangat bertanggung jawab untuk tugas dan pelayanannya) dan menemukan prinsip demokrasi.
·         Menjelaskan makna  Demokrasi dan HAM.
·       Mengkritisi praktik demokrasi  DAN ham di daerahnya dan di Indonesia serta membandingkannnya dengan ayat Alkitab
·      Membuat pernyataan tekad: akan berperan serta dalam penegakan  Demokrasi dan HAM dalam lingkungan sehari-hari, termasuk lingkungan keluarga dan sekolah.
·      Bersikap kritis dalam mewujudkan nilai-nilai Demokrasi dan HAM dalam masyarakat dengan mengacu pada teks Alkitab.
·      Membuat dua proyek untuk menerapkan nilai-nilai Demokrasi dan HAM dalam kehidupan keluarganya dan/atau lingkungannya.
·      Mengumpulkan gambar-gambar tokoh ham dan demokrasi baik lokal maupun dunia dan menuliskan kesan mereka terhadap tokoh tersebut, apa yang mereka sukai dan pembelajaran demokrasi apa yang mereka dapat. (Minimal 4 tokoh). Dari semua tokoh itu, jika diminta memilih, dia ingin menjadi seperti siapa dan mengapa? (Contoh: Misalnya ia memilih Soekarno, (Minimal 4 tokoh). Dari semua tokoh itu, jika diminta memilih, dia ingin menjadi seperti siapa dan mengapa? (Contoh: Misalnya ia memilih Soekarno, mengapa ia memilihnya).
27 JP

1.2.      Mensyukuri pemberian Allah dalam kehidupan multikultur di Indonesia

2.2. Mengembangkan sikap dan perilaku yang menghargai multikultur
3.2. Menganalisis  nilai-nilai   multikultur.

4.2.  Membuat proyek yang berkaitan dengan kehidupan multikultur.
- Multikultur adalah pemberian Allah

·         Mempelajari  artikel tentang penyerangan terhadap kelompok tertentu oleh kelompok lainnya, dan menjawab pertanyaan tentang artikel tersebut.


·      Membangun pertanyaan kritis mengenai motivasi orang Samaria berbuat baik mengacu pada Injil Lukas 10: 25-37.

·         Membaca “Bahaya Eksklusivisme dalam masyarakat multikultural,”  lalu  membuat rumusan/ usulan,  bagaimana membangun sikap inklusif.
·      Menelaah pluralisme dari perspektif Alkitab misalnya orang Samaria yang murah hati, seperti tercantum dalam  Injil Lukas 10: 25-37.
·      Merumuskan tentang pengertian pluralisme, dan pentingnya hal ini dipraktikkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.
·       Menelaah keberadaan atau hakikat ras, etnis, dan gender dari perspektif Alkitab.
·      Menjelaskan tentang multikulturalisme.
·      Mempraktikkan dan memperjuangkan keadilan ras, etnis, dan gender di lingkungan sekolah/gereja/ masyarakat.



27 JP

1.3. Menghayati pentingnya keadilan sebagai dasar mewujudkan Demokrasi dan HAM mengacu pada teks Alkitab.

2.3. Mengembangkan rasa keadilan sebagai dasar mewujudkan Demokrasi dan HAM mengacu pada teks Alkitab.

3.3. Menilai pentingnya keadilan sebagai dasar mewujudkan Demokrasi dan HAM pada konteks global dan lokal mengacu pada teks Alkitab.

4.3. Mempresentasikan karya yang berkaitan dengan pentingnya keadilan sebagai dasar mewujudkan Demokrasi dan HAM mengacu pada teks Alkitab.
-          Demokrasi dan HAM
·         Meneliti teks Alkitab yang menulis mengenai keadilan, terutama perintah Allah dalam kaitannya dengan keadilan serta akibat yang ditanggung jika mengabaikan perintah itu.
·         Mengamati praktik keadilan di rumah dan di sekolah, apakah keadilan diterapkan di rumah dalam pola asuh orang tua, hubungan antar saudara dan di sekolah dalam kaitannya antara sikap guru dan peserta didik dan sikap antar sesam peserta didik.

·         Menjelaskan arti keadilan khususnya dikaitkan dengan Demokrasi dan HAM. Apakah peserta didik telah memparktikkan keadilan dalam dirinya?
·         Mencari dari berbagai sumber mengenai praktik keadilan secara global maupun pada aras lokal, dalam gereja maupun pemerintahan.
·         Kerja kelompok, Mempelajari berbagai informasi tersebut serta membuat catatan kritis mengenai praktik keadilan, jadikan teks Alkitab sebagai acuan apakah praktik keadilan itu menyimpang atau tidak.
·         Meng kaitkan antara keadilan, Demokrasi dan HAM
·         Mempresentasikan catatan kritis yang dibuat ketika mempelajari praktik keadilan pada aras global maupun lokal.
·         Menulis refleksi makna keadilan bagi dirinya, terutama dikaitkan dengan praktik keadilan di rumah maupun di sekolah.


21  P

1.4 Menghayati dan enjalankan perannya sebagai pembawa damai sejahtera dalam kehidupan sehari-hari.

1.4        Bersikap proaktif sebagai pembawa damai sejahtera dalam kehidupan sehari-hari.

3.4. Menganalisis  peran remaja sebagai  pembawa damai sejahtera dalam kehidupan sehari-hari selaku murid Kristus.

1.4. Membuat proyek yang berkaitan dengan peran remaja sebagai pembawa damai sejahtera .
-          Menjadi pembawa damai sejahtera












·      Mengamati dari berbagai sumber belajar, apakah kehidupan dalam kondisi damai sejahtera dirasakan di masyarakat.
·      Mengkritisi: Apa yang akan terjadi bila setiap orang Kristen dibiarkan hidup semau-maunya, tanpa mengindahkan perintah Tuhan Yesus untuk saling mengasihi?
·       Menjelaskan dengan kata-kata sendiri makna damai sejahtera dari perspektif Alkitab.
·       Merancang program yang menunjukkan sikap menghargai sesama.
·       Membuat program untuk 3 bulan ke depan: mempraktikkan damai sejahtera dalam kehidupan sehari-hari.
21  P