Senin, 13 Mei 2013

Merencanakan Pendekatan,Model,Metode,dan Strategi Pembelajaran Yang Tepat




MERENCANAKAN  PENDEKATAN, MODEL, METODE  DAN  STRATEGI  PEMBELAJARAN  YANG  TEPAT 

DAPAT  MENUNJANG   KEBERHASILAN

PROSES BELAJAR MENGAJAR


( Makalah Tentang Strategi Pembelajaran  )

BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang

Perencanaan pembelajaran yang bermutu adalah tahap awal dari terwujudnya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Hal itu adalah pesan yang diamanatkan oleh Standar Nasional Pendidikan pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19/2005 pasal 19 tentang Standar Proses. Pada pasal 19 ayat 3 dinyatakan bahwa setiap satuan pendidikan (sekolah) melakukan perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya
proses pembelajaran yang efektif dan efisien
Mengajar pada hakikatnya ialah suatu proses mengatur dan mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar anak didik, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar. Mengajar juga merupakan proses memberikan bimbingan/bantuan kepada anak didik dalam melakukan proses belajar.
Mengajar merupakan kegiatan yang mutlak memerlukan keterlibatan individu anak didik. Bila tidak ada anak didik atau objek didik, siapa yang diajar. Hal ini perlu sekali guru sadari agar tidak terjadi kesalahan tafsir terhadap kegiatan pengajaran.
Karena itu, belajar dan mengajar merupakan istilah yang sudah baku dan menyatu di dalam konsep pengajaran. Kegiatan belajar dan mengajar adalah suatu kondisi dengan sengaja diciptakan. Gurulah yang menciptakannya guna membelajarkan anak didik. Guru yang mengajar dan anak didik yang belajar. Perpaduan dari kedua unsur manusiawi ini lahirlah interaksi edukatif dengan memanfaatkan bahan sebagai mediumnya.
Di sanalah semua komponen pengajaran diperankan secara optimal guna mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelum pengajaran dilaksanakan.
Peranan guru sebagai pembimbing bertolak dari cukup banyaknya anak didik yang bermasalah. Dalam belajar ada anak didik yang cepat mencerna bahan. Ada anak didik yang sedang dalam mencerna bahan. Dan ada pula anak didik yang lamban mencerna bahan yang diberikan oleh guru. Ketiga tipe belajar anak didik ini menghendaki agar guru mengatur strategi pengajarannya yang sesuai dengan gaya-gaya belajar anak didik.




B. Pengertian dan Perbedaan Pendekatan, Model, Metode  Dengan Strategi Pembelajaran

Ø Pendekatan Pembelajaran: Perspektif teori yang dapat digunakan sebgai landasan dalam memilih model, metode dan teknik pembelajaran. Contoh: pendekaan keterampilan proses, pendekatan CTL, pendekatan konsep, pendekatan inquiri dsb.

Ø Model Pembelajaran: prosedur pembelajaran sistimatis berbentuk langkah-langkah pembelajaran (sintaks)

Ø Metode Pembelajaran: Cara dalam menyelenggarakan kegiatan belajar yang menggambarkan bentuk kegiatan siswa. Contoh: Metode diskusi, metode observasi, metode eksperimen, metode dermonstrasi, metode bermasin peran. Dsb.

Ø Strategi Pembelajaran: Perencanaan dalam menyelenggarakan kegiatan belajar yang menggambarkan bentuk kegiatan siswa. Contoh: SPE & SPI
C. Pengertian Belajar dan Mengajar

Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan ( Moh. Surya, 1992, 23).

Pengertian Belajar menurut C.T. Morgan dalam buku Introduction To Psychology (1961), Belajar adalah suatu perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku sebagai akibat / hasil dari pengalaman yang lalu. Ringkasnya ia mengatakan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.Siswa mengalami suatu proses belajar.

Dalam proses belajar tesebut, siswa menggunakan kemampuan mentalnya untuk mempelajari bahan belajar. Kemampuan-kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik yang dibelajarkan dengan bahan belajar menjadi semakin rinci dan menguat. Adanya informasi tentang sasaran belajar, adanya penguatan-penguatan, adanya evaluasi dan keberhasilan belajar, menyebabkan siswa semakin sadar, akan kemampuan dirinya.
Percival dan Ellington dalam Daryanto (2010: 59), mengungkapkan “Belajar adalah perubahan yang terjadi karena hubungan yang stabil antara stimulus yang diterima oleh organisme secara individual dengan respon yang tersamar, dimana rendah, besar, kecil, dan intensitas respon tersebut tergantung pada tingkat kematangan fisik, mental dan tendensi yang belajar”. Belajar merupakan proses dasar dari perkembangan hidup manusia.
Dapat disimpulkan dari ketiga pendapat tersebut , belajar adalah suatu tindakan sadar yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan dalam diri mereka atas stimulasi lingkungan dan proses mental mereka sehingga bertambah pengetahuannya.

Pengertian Mengajar Jerome S. Brunner dalam bukunya Toward a theory of instruction mengemukakan bahwa mengajar adalah menyajikan ide, problem atau pengetahuan dalam bentuk yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh setiap siswa. Ngalim Purwanto dalam bukunya Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis (1998: 150) mengemukakan yang dimaksud dengan mengajar ialah memberikan pengetahuan atau melatih kecakapan-kecakapan atau keterampilan-keterampilan kepada anak-anak.

D.  Pengertian Keberhasilan  Belajar Mengajar

Keberhasilan Belajar Mengajar menurut Moh Uzer Usman dan Lilis Setyawati dalam buku Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar (1993: 7-8) mengemukakan sebagai berikut. Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil, bahwa setiap guru memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan filosofinya.

Namun untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman pada kurikulum yang berlaku saat ini yang telah disempurnakan antara lain bahwa suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila TIK tersebut dapat tercapai. Untuk mengetahui tercapai tidaknya TIK, guru perlu mengadakan tes formatif setiap selesai menyajikan satu satuan bahasan kepada siswa. Indikator yang dijadikan sebagai tolak ukur dalam menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil.


E.  Indikator Keberhasilan  Belajar Mengajar

Keberhasilan belajar mengajar dapat dilihat dari :
  1. Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individual maupun kelompok.
  2. Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajarkan intruksional khusus (TIK) telah dicapai oleh siswa, baik secara individual maupun kelompok.
Akan tetapi, indikator yang banyak dipakai sebagai tolak ukur keberhasilan adalah daya serap.












BAB II
PEMBAHASAN

A.  Empat Strategi Dasar Dalam Mengajar

1. Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana yang diharapkan. Apakah yang dijadikan sasaan dalam kegiatan belajar mengajar. Sasaran yang dituju harus jelas dan terarah.
2. Memilih sistem pendekatan belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif untuk mencapai sasaran.
3. Memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan oleh guru dalam menunaikan kegiatan mengajarnya.
4. Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan atau kriteria serta standar keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya akan dijadikan umpan balik untuk penyempurnaan sistem instruksional yang bersangkutan secara keseluruhan.

B. Menetapkan Sasaran atau Tujuan Kegiatan Belajar Mengajar

Setiap kegiatan belajar mengajar mempunyai sasaran atau tujuan. Tujuan itu bertahap dan berjenjang mulai dari yang sangat operasional dan konkret, yakni tujuan instruksional khusus (TIK) dan tujuan instruksional umum, tujuan kurikuler, tujuan nasional, sampai kepada tujuan yang bersifat universal.

Tujuan dalam pengajaran adalah suatu cita-cita yang bersifat normatif. Dengan kata lain, dalam tujuan terdapat sejumlah nilai yang harus ditanamkan kepada anak didik. Nilai-nilai itu nantinya akan mewarnai cara anak didik bersikap dan berbuat dalam lingkungan sosialnya, baik di sekolah maupun di luar sekolah.




Tujuan pengajaran yang berjenjang dari yang umum/luas sampai kepada yang khusus/sempit, haruslah berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya, dan tujuan di bawahnya menunjang tujuan di atasnya. Bila tujuan terendah tidak tercapai, maka tujuan di atasnya juga tidak tercapai, sebab rumusan tujuan terendah biasanya menjadikan tujuan di atasnya sebagai pedoman. Ini berarti bahwa dalam merumuskan tujuan harus benar-benar memperhatikan kesinambungan setiap jenjang tujuan dalam pendidikan dan pengajaran.

Tujuan adalah komponen belajar mengajar yang dapat mempengaruhi komponen pengajaran lainnya seperti bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, pemilihan metode, alat, sumber, dan alat evaluasi. Semua komponen itu harus bersesuaian dan didayagunakan untuk mencapai tujuan seefektif dan seefisien mungkin. Bila salah satu komponen tidak sesuai dengan tujuan, maka pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tidak akan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Karena itu, rumusan tujuan yang operasional dalam belajar mengajar mutlak dilakukan oleh guru sebelum melakukan tugasnya di sekolah.

C. Berbagai Pendekatan Dalam Mengajar
Ketika kegiatan belajar mengajar berproses, guru harus ikhlas dalam bersikap dan berbuat, serta mau memahami anak didiknya dengan segala konsekuensinya. Semua kendala yang terjadi dan dapat menjadi penghambat jalannya proses belajar mengajar, baik yang berpangkal dari perilaku anak didik maupun yang bersumber dari luar diri anak didik, harus guru hilangkan, dan bukan membiarkannya. Karena keberhasilan belajar mengajar lebih banyak ditentukan oleh guru dalam mengelola kelas.

Dalam mengajar, guru harus pandai menggunakan pendekatan secara arif dan bijaksana, bukan sembarangan yang bisa merugikan anak didik. Pandangan guru terhadap anak didik akan menentukan sikap dan perbuatan. Setiap guru tidak selalu mempunyai pandangan yang sama dalam menilai anak didik. Hal ini akan mempengaruhi pendekatan yang guru ambil dalam pengajaran.
Sebaiknya seorang guru memandang anak didiknya sebagai individu dengan segala perbedaannya, sehingga mudah melakukan pendekatan dalam pengajaran.


Ada beberapa pendekatan dalam pengajaran guna membantu guru dalam memecahkan berbagai masalah dalam kegiatan belajar mengajar.
1. Pendekatan Individual
Masing-masing anak didik memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dari satu anak didik dengan anak didik lainnya. Mereka belajar dengan gaya yang berbeda-beda. Perilaku mereka juga bermacam-macam. Perbedaan individual anak didik tersebut memberikan wawasan kepada guru bahwa strategi pengajaran harus memperhatikan perbedaan anak didik pada aspek individual ini. Dengan kata lain, guru harus melakukan pendekatan individual dalam melakukan kegiatan belajar mengajarnya. Contoh, untuk menghentikan anak didik yang suka bicara, caranya adalah dengan memisahkan/memindakan salah satu dari anak didik tersebut pada tempat yang terpisah dengan jarak yang cukup jauh. Anak didik yang suka bicara ditempatkan pada kelompok anak didik yang pendiam.
2. Pendekatan Kelompok
Pendekatan kelompok suatu waktu diperlukan dan perlu digunakan untuk membina dan mengembangkan sikap sosial anak didik. Dengan pendekatan kelompok, diharapkan dapat ditumbuhkembangkan rasa sosial yang tinggi pada diri setiap anak didik. Mereka dibina untuk mengendalikan rasa egois yang ada dalam diri mereka masing-masing. Sehingga terbina sikap kesetiakawanan sosial di kelas. Anak didik dibiasakan hidup bersama, bekerja sama dalam kelompok, akan menyadari bahwa dirinya memiliki kekurangan dan kelebihan. Yang memiliki kelebihan mau membantu yang memiliki kekurangan, dan mereka yang memiliki kekurangan dengan rela hati mau belajar dari mereka yang memiliki kelebihan, tanpa ada rasa minder. Persaingan yang positif pun terjadi di kelas dalam rangka untuk mencapai prestasi belajar yang optimal. Inilah yang diharapkan, yakni anak didik yang aktif, kreatif dan mandiri.
3. Pendekatan Bervariasi
Pendekatan bervariasi bertolak dari konsepsi bahwa permasalahan yang dihadapi oleh setiap anak didik dalam belajar bermacam-macam. Kasus yang biasanya muncul dalam pengajaran dengan berbagai motif, sehingga diperlukan variasi teknik pemecahan untuk setiap kasus. Maka kiranya pendekatan bervariasi ini sebagai alat yang dapat guru gunakan untuk kepentingan pengajaran.




4. Pendekatan Edukatif
Apa pun yang guru lakukan dalam pendidikan dan pengajaran, hendaknya dengan tujuan untuk mendidik, bukan karena motif-motif lain seperti karena dendam, gengsi, ingin ditakuti, dan lain sebagainya. Anak didik yang telah melakukan kesalahan, misalnya, tidak tepat diberikan sanksi hukum dengan cara memukul badannya hingga luka atau cidera. Ini adalah tindakan sanksi hukum yang tidak bernilai pendidikan. Guru telah melakukan pendekatan yang salah. Guru telah menggunakan teori power, yakni teori kekuasaan untuk menundukkan orang lain. Dalam pendidikan, guru akan kurang arif dan bijaksana jika menggunakan kekuasaan, karena hal itu bisa merugikan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak didik.

D. Penggunaan Metode Pengajaran
Kegiatan belajar mengajar adalah sebuah interaksi yang bernilai pendidikan. Di dalamnya terjadi interaksi edukatif antara guru dan anak didik, ketika guru menyampaikan bahan pelajaran kepada anak didik di kelas. Bahan pelajaran yang guru berikan itu akan kurang memberikan dorongan (motivasi) kepada anak didik bila penyampaiannya menggunakan strategi yang kurang tepat. Di sinilah kehadiran metode menempati posisi penting dalam penyampaian bahan pelajaran.
Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir. Seorang guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya bila dia tidak menguasai satu pun metode mengajar yang telah dirumuskan dan dikemukakan para ahli psikologi dan pendidikan. (Syaiful Bahri Djamarah, 1991, 72)
Bahan pelajaran yang disampaikan tanpa memperhatikan pemakaian metode justru akan mempersulit bagi guru dalam mencapai tujuan pengajaran. Pengalaman membuktikan bahwa kegagalan pengajaran salah satunya disebabkan oleh pemilihan metode yang kurang tepat. Kelas yang kurang bergairah dan kondisi anak didik yang kurang kreatif dikarenakan penentuan metode yang kurang sesuai dengan sifat bahan dan tidak sesuai dengan tujuan pengajaran. Karena itu, guru sebaiknya memperhatikan dalam pemilihan dan penentuan metode sebelum kegiatan belajar mengajar dilaksanakan di kelas.


Dalam penggunaan metode terkadang guru harus menyesuaikan dengan kondisi dan suasana kelas. Jumlah anak mempengaruhi penggunaan metode. Tujuan instruksional adalah pedoman yang mutlak dalam pemilihan metode. Dalam perumusan tujuan, guru perlu merumuskannya dengan jelas dasn dapat diukur. Dengan begitu mudahlah bagi guru menentukan metode yang bagaimana yang dipilih guna menunjang pencapaian tujuan yang telah dirumuskan.
Berikut ini akan dijelaskan praktik kombinasi metode mengajar. Karena dalam praktiknya, metode mengajar memang tidak digunakan sendiri-sendiri, tetapi merupakan kombinasi dari beberapa metode mengajar. Diharapkan dengan uraian ini kita akan mendapatkan gambaran bagaimana mempraktikkan metode mengajar.

1. Metode Ceramah, Tanya Jawab dan Tugas
No.
Langkah
Jenis Kegiatan Belajar Mengajar
1.
Persiapan
1. Menciptakan kondisi belajar siswa.
2.
Pelaksanaan
2. Penyajian, tahap guru menyampaikan bahan pelajaran (metode ceramah).
3. Asosiasi/komparasi, artinya memberi kesempatan kepada siswa untuk menghubungkan dan membandungkan materi ceramah yang telah diterimanya melalui tanya jawab (metode tanya jawab).
4. Generalisasi/kesimpulan, memberikan tugas kepada siswa untuk membuat kesimpulan melalui hasil ceramah (metode tugas).

3.

Evaluasi

5. Mengadakan penilaian terhadap pemahaman siswa mengenai bahan yang telah diterimanya, melalui tes lisan dan tulisan atau tugas lain.






2.     Metode Ceramah, Diskusi dan Tugas

No.
Langkah
Jenis Kegiatan Belajar Mengajar
1.
Persiapan
1. Menciptakan kondisi belajar siswa.
2. Memberikan informasi/penjelasan tentang masalah tugas dalam diskusi (metode ceramah).
3. Mempersiapkan sarana/prasarana untuk melakukan diskusi (tempat, peserta dan waktu).
2.
Pelaksanaan
4. Siswa melakukan diskusi:
  • Guru merangsang seluruh anak didik berpartisipasi dalam diskusi.
  • Memberikan kesempatan kepada semua anggota untuk aktif.
  • Mencatat tanggapan/saran dan ide-ide yang penting.
3.
Evaluasi/tindak lanjut
5. Memberikan tugas kepada siswa untuk:
  • Membuat kesimpulan diskusi;
  • Mencatat hasil diskusi;
  • Menilai hasil diskusi;
  • Dan lain sebagainya.












3.         Metode Ceramah, Demonstrasi dan Eksperimen

No.
Langkah
Jenis Kegiatan Belajar Mengajar
1.
Persiapan
1. Menciptakan kondisi belajar siswa untuk melaksanakan demonstrasi dengan:
  • Menyediakan alat-alat demonstrasi;
  • Tempat duduk siswa.
2.
Pelaksanaan
2. Mengajukan masalah kepada siswa (ceramah)
Melaksanakan demonstrasi:
  • Menjelaskan dan mendemonstrasikan suatu prosedur atau proses.
  • Usahakan seluruh siswa dapat mengikuti/mengamati demonstrasi dengan baik.
  • Beri penjelasan yang padat tapi singkat.
  • Hentikan demonstrasi kemudian adakan tanya jawab.

3.

Evaluasi/tindak lanjut

3. Beri kesempatan kepada siswa untuk tidak lanjut mencoba melakukan sendiri (metode eksperimen).
4. Membuat kesimpulan hasil demonstrasi.
5. Mengajukan pertanyaan kepada siswa.











4. Metode Ceramah, Sosiodrama dan Diskusi
No.
Langkah
Jenis Kegiatan Belajar Mengajar
1.
Persiapan
1. Menentukan dan menceritakan situasi sosial yang akan didramatisasikan (metode ceramah)
2. Memilih para pelaku.
3. Mempersiapkan pelaku untuk menentukan peranan masing-masing.
2.
Pelaksanaan
4. Siswa melakukan sosiodrama.
5. Guru menghentikan sosiodrama pada saat situasi sedang memuncak (tegang)
6. Akhiri sosiodrama dengan diskusi tentang jalan cerita, atau pemecahan masalah selanjutnya.
3.
Evaluasi/tindak lanjut
7. Siswa diberi tugas untuk menilai atau memberi tanggapan terhadap pelaksanaan sosiodrama.
8. Siswa diberi kesempatan untuk membuat kesimpulan hasil sosiodrama.
5. Metode Ceramah, Problem Solving dan Tugas
No.
Langkah
Jenis Kegiatan Belajar Mengajar
1.
Persiapan
1. Menentukan dan menjelaskan masalah (metode ceramah).
2. Menyediakan alat/buku-buku yang relevan dengan masalah tersebut.
2.
Pelaksanaan
3. Siswa mengadakan identifikasi masalah.
4. Merumuskan hipotesis atau jawaban sementara dalam memecahkan masalah tersebut.
5. Mengumpulkan data atau keterangan yang relevan dengan masalah.
6. Menguji hipotesis (siswa berusaha memecahkan masalah yang dihadapinya dengan data yang ada).
3.
Evaluasi/tindak lanjut
7. Membuat kesimpulan pemecahan masalah.
8. Memberi tugas kepada siswa untuk mencatat hasil pemecahan masalah (metode tugas).

6. Metode Ceramah, Demonstrasi dan Latihan
No.
Langkah
Jenis Kegiatan Belajar Mengajar
1.
Persiapan
1. Menyediakan peralatan yang diperlukan.
2. Menciptakan kondisi anak untuk belajar.
2.
Pelaksanaan
3. Memberikan pengertian/penjelasan sebelum latihan dimulai (metode ceramah).
4. Demonstrasikan proses atau prosedur itu oleh guru dan siswa mengamatinya.
3.
Evaluasi/tindak lanjut
5. Siswa diberi kesempatan mengadakan latihan (metode latihan).
6. Siswa membuat kesimpulan dari latihan yang ia lakukan.
7. Guru bertanya kepada siswa.
E.  Keberhasilan Belajar Mengajar
Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing-masing. Namun untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman pada kurikulum yang berlaku saat ini yang telah disempurnakan, antara lain bahwa suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila tujuan instruksional khusus (TIK) tercapai.
Untuk mengetahui tercapai tidaknya TIK, guru perlu mengadakan tes formatif setiap selesai menyajikan satu bahasan kepada siswa. Penilaian formatif ini untuk mengetahui sejauh mana siswa telah menguasai tujuan instruksional khusus (TIK) yang ingin dicapai. Fungsi penilaian ini adalah untuk memberikan umpan balik kepada guru dalam rangka memperbaiki proses belajar mengajar dan melaksanakan program remedial bagi siswa yang belum berhasil.
1. Indikator Keberhasilan
Yang menjadi petunjuk bahwa suatu proses belajar mengajar dianggap berhasil adalah hal-hal tersebut:
a. Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individual maupun kelompok.
b. Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran/instruksional khusus (TIK) telah dicapai oleh siswa, baik secara individual meupun kelompok.

Namun demikian, indikator yang banyak dipakai sebagai tolak ukur keberhasilan adalah daya serap.
2. Penilaian Keberhasilan
Untuk mengukur dan mengevaluasi tingkat keberhasilan belajar, dapat dilakukan melalui tes prestasi belajar.
a. Tes formatif
Penilaian ini digunakan untuk mengukur satu atau beberapa pokok bahasan tertentu dan bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang daya serap siswa terhadap pokok bahasan tersebut.
b. Tes subsumatif
Tes ini meliputi sejumlah bahan pengajaran tertentu yang telah diajarkan dalam waktu tertentu. Tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran daya serap siswa untuk meningkatkan tingkat prestasi belajar siswa. Hasil tes subsumatif ini dimanfaatkan untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan diperhitungkan dalam menentukan nilai rapor.
c. Tes Sumatif
Tes ini diadakan untuk mengukur daya serap siswa terhadap bahan pokok-pokok bahsan yang telah diajarkan selama satu semester, satu atau dua tahun pelajaran. Tujuannya adalah untuk menetapkan tingkat atau taraf keberhasilan belajar siswa dalam suatu periode belajar tertentu. Hasil tes sumatif ini dimanfaatkan untuk kenaikan kelas, menyusun peringkat atau sebagai ukuran mutu sekolah.
3. Tingkat Keberhasilan
Keberhasilan proses mengajar itu dibagi atas beberapa tingkatan atau taraf. Tingkat keberhasilan tersebut adalah sebagai berikut:
a. Istimewa/maksimal: apabila seluruh bahan pelajaran yang diajarkan itu dapat dikuasai oleh siswa.
b. Baik sekali/optimal: apabila sebagian besar (76%-99%) bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai oleh siswa.
c. Baik/minimal: apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya 60%-75% saja dikuasai oleh siswa.
d. Kurang: apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 60% dikuasai oleh siswa.

F.     Penggunaan Media Dalam Proses Belajar Mengajar
Media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan. Dalam proses belajar mengajar, kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut, ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Kerumitan bahan yang akan disampaikan kepada anak didik dapat disederhanakan dengan bantuan media. Media dapat mewakili apa yang kurang mampu guru ucapkan melalui kata-kata atau kalimat tertentu.
Namun perlu diingat, bahwa peranan media tidak akan terlihat bila penggunaannya tidak sejalan dengan isi dari tujuan pengajaran yang telah dirumuskan. Karena itu, tujuan pengajaran harus dijadikan sebagai pangkal acuan untuk menggunakan media.
1. Macam-macam Media
Dilihat dari jenisnya, media dibagi menjadi:
a. Media auditif (suara), seperti radio, kaset recorder, piringan hitam.
b. Media visual (mengandalkan indra penglihatan), seperti film strip (film rangkai), slides (film bingkai) foto, gambar atau lukisan.
c. Media audio visual (memiliki unsur suara dan gambar), seperti film rangkai suara, film video cassette.
2. Langkah Mengajar dengan Mempergunakan Media
  • Merumuskan tujuan pengajaran dengan memanfaatkan media.
  • Persiapan guru. Pada fase ini, guru memilih dan menetapkan media mana yang akan dimanfaatkan guna mencapai tujuan.
  • Persiapan kelas. Pada fase ini siswa atau kelas harus mempunyai persiapan, sebelum mereka menerima pelajaran dengan menggunakan media.
  • Langkah penyajian pelajaran dan pemanfaatan media. Pada fase ini penyajian bahan pelajaran dengan memanfaatkan media pengajaran. Keahlian guru dituntut di sini. Media diperbantukan oleh guru untuk membantu tugasnya menjelaskan bahan pelajaran.
  • Langkah kegiatan belajar siswa. Pada fase ini siswa belajar dengan memanfaatkan media pengajaran. Pemanfaatan media di sini bisa siswa sendiri yang mempraktikkannya ataupun guru langsung memanfaatkannya, baik di kelas atau di luar kelas.

  • Langkah evaluasi pengajaran. Pada langkah ini kegiatan belajar dievaluasi, sampai sejauh mana tujuan pengajaran tercapai, yang sekaligus dapat dinilai sejauh mana pengaruh media sebagai alat bantu dapat menunjang keberhasilan proses belajar.
G. Program Perbaikan

Program perbaikan merupakan satu kesatuan dengan proses pembelajaran. Program perbaikan ini dilaksanakan guna memperbaiki nilai siswa yang masih dibawah taraf minimal. Program perbaikan salah satunya yaitu dengan Remidial Teaching. Remedial teaching atau pengajaran perbaikan adalah suatu pengajaran yang bersifat menyembuhkan atau membetulkan, atau dengan singkat pengajaran yang membuat lebih baik. Dapat dikatakan pula bahwa pengajaran perbaikan itu berfungsi terapis untuk penyembuhan. Yang disembuhkan adalah berupa hambatan  ( gangguan) kepribadian yang berkaitan dengan kesulitan belajar sehingga dapat timbal balik dalam arti perbaikan belajar juga pribadi dan sebaliknya. Seperti yang kita ketahui bahwa dalam proses belajar mengajar siswa diharapkan dapat mencapai hasil yang optimal, sehingga apabila ada siswa yang belum berhasil mencapai hasil yang diharapkan maka diperlukan suatu pengajaran yang membantu agar tercapai hasil yang diharapkan. Dengan demikian pengajaran perbaikan diarahkan kepada pencapaian yang optimal sesuai dengan kemampuam masing – masing siswa. Maka pengajaran perbaikan atau remedial teaching adalah bentuk khusus pengajaran yang berfungsi untuk penyembuhan, membetulkan atau membuat menjadi baik.
Dalam pengajaran perbaikan biasanya mengandung kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1. Mengulang pokok bahasan secara keseluruhan
2. Mengulang bagian dari pokok bahasan yang hendak dikuasai
3. Memecahkan masalah melalui soal soal
4. Memberikan tugas-tugas individu




BAB III
KESIMPULAN
            Dari  pembahasan yang telah diuraikan diatas bahwa dapat dapat diambil kesimpulan bahwa:
  1. Suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila TIK tersebut dapat tercapai. Untuk mengetahui tercapai tidaknya TIK, guru perlu mengadakan tes formatif setiap selesai menyajikan satu satuan bahasan kepada siswa.
  2. Keberhasilan belajar mengajar dapat dilihat dari daya serap siswa terhadap bahan pengajaran dan pencapaian perilaku yang digariskan dalam TIK.
  3. Untuk mengukur dan mengevaluasi tingkat keberhasilan belajar tersebut dapat dilakukan melalui tes prestasi belajar berupa tes formatif, tes sub sumatif dan tes sumatif.
  4. Penilaian hasil belajar bertujuan melihat kemajuan belajar peserta didik dalam hal penguasaan materi pengajaran yang telah dipelajarinya sesuai dengan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
1.      Keberhasilan proses mengajar itu dibagi atas beberapa tingkatan atau taraf keberhasilan yaitu dengan kata “istimewa/maksimal, baik sekali/optimal, baik/minimal, kurang”.
2.      Program perbaikan merupakan satu kesatuan dengan proses pembelajaran. Program perbaikan ini dilaksanakan guna memperbaiki nilai siswa yang masih dibawah taraf minimal. Program perbaikan salah satunya yaitu dengan Remidial Teaching.
3.      Faktor – faktor yang mempengaruhi keberhasilan, diantaranya:
1.  Tujuan
2.  Guru/pendidik
3.  Anak didik
4.  Kegiatan pembelajaran  dengan pendekatan, model, metode  dan  strategi  pembelajaran yang  tepat
5.  Bahan dan alat evaluasi
6.  Suasana evaluasi




DAFTAR PUSTAKA

ü  J.mursel dan Prof. Dr. S.Nasution, M.A. Mengajar dengan Sukses, PT Bumi Aksara. hal.1
ü  Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetya. SBM. 1997. Bandung: CV pustaka setya,  hal 158.
ü  Drs. Ahmad Rohani HM dan Drs. Abu Ahmadi. 1995. Pengelolaan pengajaran, PT Rienika cipta,. hal. 159
ü  Drs. Lukmanul Hakim, M.Pd. Perencanaan Pembelajaran, Bandung. CV Wacana Prima : 2008
ü  Drs. Rudi Susilana, M.Si, Cepi Riyana, M.Pd, Media Pembelajaran, (Bandung, CV Wacana Prima : 2007
ü  Moh Uzer Usman dan Lilis Setiawati; Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, Bandung. PT Remaja Rosdakarta : 1993




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar